Media Di Sini Sekarang, Esok Hilang Dalam tiga zaman, tiga korannya dibredel. Koran Pedoman yang dipimpinnya dibreidel tiga rezim; Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru, karena berita-beritanya dianggap terlalu "keras". Bagi Rosihan Anwar, tak ada tempat bagi media pers selain yang berani menyuarakan kepentingan umum. Karena itu,m tandas dikatakannya bahwa "pers bebas dan bertanggung jawab itu tidak ada. Namun, agar tak rancu, fakta dan opini harus dipisah. PWI mengangkatnya sebagai Ketua Pembina Pusat pada 1970-1973, dan ia menjadi Direktur Program Karya Latihan Wartawan 1978. Ratusan wartawan telah dibinanya. Kini opa gaek dengan enam cucu dan seorang cicit ini menjadi broodschrijver, yaitu menulis demi sepotong roti. Tuhan telah menganugerahinya rezeki tidak berlimpah, tapi cukup. Kekayaan yang dimilikinya kini dan tak ternilai harganya adalah kesehatannya. Daya ingat yang masih tajam dan tulisannya yang asyik dibaca.
[Media, Gatra Nomor 28 Beredar Kamis, 22 Mei 2008] [ Print | Email ]
Acara PKB Muhaimin Didemo Jakarta, 28 Mei 2008 15:34 Anggota Kaukus Muda Bangsa mendemo acara Muhasabah Nasional Alim Ulama oleh PKB Muhaimin Iskandar, sekaligus menuding kubu Muhaimin sebagai corong pemerintah. [ Print | Email ]
ISSM 2008 Mahasiswa Indonesia di Belanda Gelar Pertemuan Ilmiah Jakarta, 28 Mei 2008 14:54 Mahasiswa Indonesia, yang tergabung dalam PPI Delft, PPI Wageningen dan ISTECS Eropa, menggelar pertemuan ilmiah, di TU Delft, Belanda, membahas persoalan bangsa di Tanah Air. [ Print | Email ]
Wiranto: Iklan Politik Lebih Beretika Ketimbang Demo Bogor, 28 Mei 2008 14:08 Ketua Umum Partai Hanura Wiranto mengatakan, iklan politik yang dilakukannya lebih beretika ketimbang menggelar aksi demo, sebagai bentuk penyampaian pendapat. [ Print | Email ]
Roy Janis: Pemimpin Harus Punya Kontrak Politik Yang Tegas Jakarta , 28 Mei 2008 14:06 Pemimpin nasional yang akan datang harus punya kontrak politik yang tegas dengan rakyat, sehingga kala janji diingkari, rakyat bisa segera menjatuhkan sanksi. [ Print | Email ]
Program Satu Keluarga Satu Sarjana Baznas Targetkan Biayai 200.000 Mahasiswa Jakarta, 28 Mei 2008 14:02 Baznas, lewat program "Satu Keluarga Satu Sarjana" (SKSS) menargetkan biayai kuliah 200.000 mahasiswa, dengan dana zakat, yang dikumpulkan hingga akhir 2008. [ Print | Email ]
Bergelimang dalam Budaya Kumuh Anda jangan terlalu berharap masalah BLBI akan tuntas dalam beberapa tahun ini jika pimpinan negara tetap saja dalam keraguan untuk bertindak, sementara sebagian aparat penegak hukum tidak bisa membebaskan diri dari lingkungan yang keji dan kumuh itu. [ Print | Email ]
Yudi Latif Tanda Kebangkitan Lantas, tanda apakah yang kita ciptakan pada masa kini, seabad setelah BO berdiri? Inteligensia dan politisi berhenti membaca dan mencipta karena kepintaran kembali dihinakan oleh ''kebangsawanan baru'': kroni dan kemewahan. [ Print | Email ]
Fachry Ali Robohnya Dunia Santri Bayangan atau bahkan nikmat kekuasaan yang dapat diraih melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bukan saja telah membuat komunitas santri menjadi tak imun terhadap aktor-aktor eksternal, melainkan juga membuat mental qanaah memudar. [ Print | Email ]