Penyerangan oleh FPI terhadap AKKBB pada peringatan hari lahir Pancasila, 1 Juni, di Monas telah memancing kemarahan banyak pihak. Bagaimana membaca fenomena ini dalam perspektif politik luar negeri (polugri) dan diplomasi? Salah satu agenda nasional di bidang hubungan luar negeri menekankan perlunya pemulihan citra Indonesia dalam pergaulan internasional. Indonesia pasca-krisis 1998 melihat ada keperluan untuk menjalankan diplomasi pencitraan, karena pada hakikatnya diplomasi adalah upaya membangun citra untuk memperoleh kepercayaan dunia. Diplomasi pencitraan dengan tiga ciri --demokratis, moderat, dan pluralistik-- tidak bergerak dalam ruang kosong dan vakum nilai. Ketiga citra itu dikembangkan justru di tengah masyarakat yang sedang bertransformasi menjadi lebih transparan dan partisipatif, buah demokrasi itu sendiri. Diplomasi pencitraan di luar negeri mestinya mencerminkan kenyataan politik di dalam negeri. Jika kita ingin mencitrakan Indonesia yang demokratis, moderat, dan pluralistik di luar negeri, Indonesia harus membangun masyarakat yang menghargai nilai-nilai demokrasi, bersikap luwes, dan menghargai keberagaman.
[Kolom, Gatra Nomor 31 Beredar Kamis, 12 Juni 2008] [ Print | Email ]
YANG HANGAT
Moerdiono Kenapa Pak Moer Gagap? Mantan Mensesneg Moerdiono mengisahkan bahwa dulu ada seorang pejabat yang gagap saat bicara. "Kenapa pejabat tinggi itu gagap?" tanyanya pada wartawan. "Karena ada tanggung jawab. Pejabat tinggi itu, harus bisa dipertanggungjawabkan!" ujar Moerdiono, seraya mengkritik pejabat sekarang, karena banyak yang tak mau bertanggung jawab. Pak Moer mengaku lega, karena tak lagi menjabat jadi juru bicara pemerintah. [ Print | Email ]
Cokelat Etnik Frente! Cokelat Selama empat tahun Cokelat, yang beranggotakan Kikan, Ervin, Ernest, Ronny, dan Edwin, tak merilis satu album pun. Namun pertengahan tahun ini, barulah Cokelat merilis album Panca Indera. Di salah satu lagunya, Cokelat berkolaborasi dengan Angie Hart, vokalis grup Frente! asal Australia. Meski Hart mulanya menolak berkolaborasi, akhirnya dia mau juga setelah mendengar unsur etnik yang dimasukkan pada salah satu lagu. [ Print | Email ]
Indra Bekti Timpang Nama Besar Indra Sifat periang dan penuh semangat, yang dimiliki Indra Bekti, dinilai perusahaan rekaman Sony BMG Entertainment Music Indonesia layak masuk ke dapur rekaman. Alhasil, sebuah lagu berjudul Goal! direkam atas namanya, dan dimasukkan ke dalam album kompilasi bertajuk Goal! 2008. Tapi Indra merasa nggak enak hati, karena menurutnya, timpang kalau dirinya disejajarkan dengan penyanyi kelas internasional. [ Print | Email ]
Hassan Wirajuda Loyalitas Prancis Hassan Wirajuda Penampilan tim "Ayam Jantan" Prancis di berbagai kejuaraan sepak bola dalam kurun satu dekade ini ternyata mampu membuat kepincut hati Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda. Seperti dalam final Piala Dunia 2004, pria 60 tahun itu menjagokan Prancis, meski kalah dari Italia. Kini, di Piala Eropa 2008 pun, Hassan tak mau pindah ke lain tim. "Mereka punya penampilan yang baik, kerja sama tim yang padu," kata Hassan. [ Print | Email ]
Rayni Massardi "Ngefans" Ariel Peterpan Rayni Rayni N. Massardi punya cara unik dalam menuangkan idenya lewat cerpen. Di salah satu cerpennya, dalam buku yang belum lama ini diluncurkan, Rayni mencantumkan Ariel peterpan, yang jadi inspirasi ceritanya. Rayni bahkan terus terang mengaku sebagai fansnya Ariel. Kalau ia bisa ketemu langsung, ia akan langsung memberikan sendiri buku cerpennya. Kalau tidak, ia akan menitipkan buku cerpennya itu lewat wartawan. [ Print | Email ]
Wiwid Gunawan Resiko Berbikini Wiwid Sebagai seorang pendatang baru di dunia layar lebar, Wiwid Gunawan, 24 tahun, tahu betul apa yang musti ditempuh untuk menggapai ketenaran sebagai selebritas. Wiwid tak segan segan tampil "berani" di film Pulau Hantu 2. Di film horor itu, ia mengenakan bikini dan beradegan mandi di bak mandi. Ia mengaku risih juga berpakaian minim seperti itu, karena sebelumnya belum pernah dilakukannya. Namun ia jalani juga. [ Print | Email ]
PI, IM, & IM: Bacaan Wajib Pemimpin Setelah hampir 63 tahun Indonesia merdeka, apakah cita-cita kemerdekaan semakin mendekat atau malah semakin menjauh? Adalah tugas kita masing-masing untuk memberikan jawaban secara jujur dan lugas. [ Print | Email ]
Radhar Panca Dahana Paradoks Indonesia Lebih senang menonton hiburan yang melenakan ketimbang membahas dan mencari solusi hidup yang kian rumit. Lebih berkhayal tentang "sukses yang gampang" ketimbang "kerja yang keras dan susah". [ Print | Email ]
Eko Budihardjo Elite Perlu "Menungging" Mesti diingat bahwa hungry people dengan mudah menjadi angry people, apalagi bila mereka merasa diperlakukan tidak adil. Para elite politik mesti belajar dari kearifan lokal warisan nenek moyang. [ Print | Email ]